Pages

Subscribe:

Jumat, 21 Juni 2013

Koagulasi Protein

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
KOAGULASI DAN PENGENDAPAN PROTEIN




Disusun oleh
Nama              : Dewi Agus Saputri                         
NIM                : C31120067
Golongan       : A

Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Rr. Merry Muspita DU . MP


JURUSAN PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2013




BAB I
PENDAHULUAN

1.      Tujuan istruksional khusus
Setelah melakukan kegiatan praktikum, mahasiswa di harapkan mampu:
1.1  Melakukan uji koagulasi protein dengan menggunakan garam anorganik.
1.2  Melakukan uji pengendapan protein dengan menggunakan alkohol.

2.      Landasan teori
Protein merupakan makromolekul turunan polipeptida. Protein mempunyai molekul besar antara ribuan hingga jutaan satuan (g/mol). Protein tersusun dari atom – atom C, H, O dan N di tambah dengan beberapa unsur lainnya seperti P dan S. Atom-atom itu membentuk unit-unit asam amino. Urutan asam amino dalam protein maupun hubungan antara asam amino satu dengan yang lain, menentukan sifat biologis protein.
Secara kimia dibedakan antara protein sederhana dan protein kompleks yang mengandung zat-zat makanan tambahan seperti karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Pada protein kompleks, bagian polipeptida dinamakan approprotein dan keseluruhannya dinamakan haloprotein. Secara fungsional protein juga menunjukkan banyak perbedaan.
Protein mempunyai berbagai fungsi diantaranya: merupakan katalis biokimia (enzim), alat pengangkut dan penyimpan, penunjang mekanisme tubuh, pertahanan tubuh, perambatan impuls syaraf dan pengendali pertumbuhan.
Struktur protein dapat dilihat sebagai hierarki yaitu berupa struktur primer (tingkat satu), struktur sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat). Struktur  primer protein bisa ditentukan dengan beberapa metode: hidrolisis protein dengan asam kuat.
Sifat-sifat protein berbeda-beda saat bereaksi dengan air, beberapa reagen dan pemanasan serta beberapa perlakuan lainnya. Kelarutan protein akan berkurang bila kedalam larutan protein ditambahkan garam-garam anorganik. Pengendapan terus terjadi karena pengendapan ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang.
Protein yang mengandung gugus hidroksil Phenil (--OH) dapat bereaksi dengan larutan merkuri nitrat menghasilkan larutan atau endapan yang berwarna merah. Dalam suasana basa, Cu bereaksi dengan beberapa jenis larutan protein dan menghasilkan warna violet.
Protein dengan penambahan asam atau pemanasan akan mengalami koagulasi. Pada pH iso-elektrik (pH larutan tertentu biasanya bekisar 4-4,5 protein mempunyai muatan positif dan negatif sama, sehingga saling menetralkan), kelarutan protein sangat menurun atau mengendap. Pada temperatur diatas 600C kelarutan protein akan berkurang karena pada temperatur yang tinggi energi kinetik molekul protein meningkat sehingga terjadi getaran yang cukup kuat untuk merusak ikatan atau struktur sekunder, tersier dan kuartener yang menyebabkan koagulasi.
Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena lkohol berkompetisi dengan protein terhadap air.












BAB II
MATERI DAN METODE

·         Materi
Meliputi alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini.
1.      Uji Millon
Alat:                                                                Bahan:                                   
-          Tabung reaksi                                      - Albumin
-          Rak tabung reaksi                               - Gelatin
-          Pipet volume                                       - Kasein
-          Pipet tetes                                           - Reagen Millon
-          Beaker glass
-          Pemanas

2.      Uji Biuret
Alat:                                                                Bahan:
-          Tabung reaksi                                      - Albumin 20%
-          Rak tabung reaksi                               - Gelatin 20%
-          Pipet volume                                       - Kasein 20%
-          Pipet tetes                                           - NaOH 0,1 N
-          Alat pengaduk                                                - CuSO4

3.      Uji pengendapan
Alat:                                                                Bahan:
-          Tabung reaksi                                      - HCl 0,1 N
-          Pipet tetes                                           - NaOH 0,1 N
                                                        - Buffer asetat 1 M (pH=4,7)





·         Metode
Merupakan cara kerja dari praktikum ini.
1.      Uji Millon
*      Menyiapkan 3 tabung reaksi.
*      Tabung reaksi pertama diisi dengan 2 mL albumin, tabung kedua diisi dengan 2 mL gelatin tabung ketiga diisi dengan 2 mL kasein.
*      Masing-masing tabung ditambahkan dengan reagen millon sebanyak 4 tetes, maka akan terjadi endapan.
*      Kemudian memanaskannya ke dalam pemanas air yang mendidih (waterbath).

2.      Uji Biuret
*      Menyiapkan 3 tabung reaksi.
*      Tabung pertama diisi dengan 1mL albumin, tabung kedua diisi dengan 1 mL gelatin, dan tabung ketiga diisi dengan 1ml kasein.
*      Menambahkan NaOH 1 mL dan CuSO4 ) 0,1N sebanyak 2 tetes pada ketiga tabung.
*      Mengamati perubahan yang terjadi.

3.      Uji Pengendapan
*      Menyiapkan 3 tabung reaksi dan isi masing-masing dengan 5 mL protein.
*      Menambahkan 1 mL HCl 0,1 M ke dalam tabung pertama dan 6 mL etanol 95%, tabung kedua 1 mL NaOH 0,1 M dan 6 mL etanol 95% serta tabung ketiga 1mL buffer asetat dan 6 mL etanol 95%.
*      Meletakkan ketiga tabung dalam air mendidih (waterbath) selama lima menit.
*      Mengamati tabung-tabung mana yang tidak larut.




BAB III
HASIL PENGAMATAN

1.      Tabel Hasil Pengamatan Pada Praktikum Uji Millon

No tabung
Jenis larutan
Warna awal
Hasil pengamatan
1
2 ml albumin + 4 tetes reagen millon
Putih keruh
Pemanasan pertama (5menit)
4 menit : berwarna putih keruh menggumpal.
Pemanasan kedua (5 menit)
1,5 menit : menggumpal sempurna dengan warna putih dan ada gelembung menempel di permukaan dinding tabung.
2
2 ml gelatin + 4 tetes reagen millon
Kuning pucaat dan menggumpal
Pemanasan pertama (5menit)
2 menit : berwarna putih.
4 menit : berwarna kuning jernih.
Pemanasan kedua (5 menit)
4,5 menit : berwarna kuning agak keputihan.
3
2 ml kafein + 4 tetes reagen millon
Putih jernih
Pemanasan pertama (5menit)
4 menit : warna putih jernih
Pemanasankeduaa (5 menit)
4,5 menit : warna putih jernih dan ada gelembung yang menempel pada dinding tabung.



2.      Tabel Hasil Pengamatan Pada Praktikum Uji Biuret

No.Tabung
Jenis larutan
Warna sebelum homogenisasi
Hasil pengamatan
(setelah di kocok)
1.       
1 ml larutan albumin + 1 ml NaOH + 2 tetes CuSO4 0,1 N
Putih bening.
Warna ungu ( violet) dan larutan bening.
2.       
1 ml larutan gelatin + 1 ml NaOH + 2 tetes CuSO4 0,1 N
Gelatin+ NaOH+ CuSO4 warna tidak homogen warna biru dan gelatin coklat.
Tidak bercampur menjadi satu tapi waarna menjadi ungu.
3.       
1 ml larutan kafein + 1 ml NaOH + 2 tetes CuSO4 0,1 N
Warna putih bening
Warna larutan biru dan bening.

v  Tabel Hasil Pengamatan Pada Praktikum Uji Pengendapan Protein

No. Tabung
Peereaksi
Hasil
1.       
1 ml HCl 0,1N + 6 ml etanol 95 %
Larutan pada bagian atas berwarna putih bening dan bagian bawah berwarna putih susu, diantara kedua lapisan terdapat warna kuning serta endapan berwarna putih dan larutan pereaksi tidak larut.
2.       
1 ml NaOH 0,1N + 6 ml etanol 95 %
Terbagi 3 lapisan, lapisan atas berwarna putih dan menggumpal, lapisan tengah berwarna putih bening, lapisan bawah berwarna putih susu dan  encer  serta  terdapat endapan berwarna putih susu. Larutan pereaksi larut saat dipanaskan tetapi tidak keseluruhan.
3.       
1 ml buffer asetat 0,1N + 6 ml etanol 95 %
Terbagi 3 lapisan, lapisan atas berwarna putih dan menggumpal, lapisan tengah warna putih keruh, lapisan bawah berwarna putih tapi encer terdapat endapan putih susu. Larutan pereaksi larut saat dipanaskan.

BAB IV
PEMBAHASAN

1.      Uji Millon
Reagen Millon terdiri dari merkuri dan ion merkuro dalam asam nitrat dan asam nitrit. Sampel protein yang mengandung asam amino ketika direaksikan dengan reagen Million akan membentuk garam merkuri dari tirosi yang ternitrasi. Garam yang terbentuk ini akan memberikan warna yang spesifik yaitu warna merah. Warna yang terbentuk tersebut mengindikasikan bahwa sampel yang digunakan mengandung asam amino. Campuran yang kemudian dipanaskan bertujuan untuk mempercepat reaksi antara reagen dengan sampel sehingga terbentuknya garam merkuri lebih cepat. Penambahan reagen tidak boleh terlalu banyak karena warna yang terbentuk pada saat pemanasan akan menghilang. Pada praktikum ini ketiga tabung tidak menunjukkan warna merah setelah larutan dipanaskan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh peralatan yang kurang bersih.

2.      Uji Biuret
Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua  molekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning (Sudarmaji, 1989).Uji biuret adalah salah satu cara pengujian yang memberikan hasil positif pada senyawa-senyawa yang memiliki ikatan peptida. Oleh karena itu, uji Biuret ini sering digunakan untuk menunjukkan adanya senyawa protein. Uji biuret menghasilkan warna biru keunguan pada asam amino yang mengandung kompleks Cu2+, NH, dan gugus CO dari rantai peptidanya. Senyawa biuret dihasilkan dari urea yang dipanaskan didalam air panas. Suasana basa akan memberikan warna biru keunguan pada asam amino yang bereaksi dengan CuSO4. Suasana basa dihasilkan dari penambahan NaOH sedangkan penambahan CuSO4 0,1 N berfungsi untuk menghasilkan warna biru keunguan pada reaksi yang positif memiliki gugus Cu2+, NH dan gugus CO pada ikatan peptidanya. Albumin memiliki gugus bangun yang kompleks dan mengikat dua atau lebih asam amino esensial, sehingga terbentuk ikatan peptida. Semakin banyak ikatan peptida yang dimiliki warna ungu yang terbentuk akan semakin nyata (Gilvery 1996). Gambaran proses terbentuknya ikatan peptida:


Gambar 5 Proses terbentuknya ikatan peptida
Pada praktikum ini tabung 1 dan 2 yang berisi larutan albumin dan gelatin menunjukkan reaksi positif yakni berwarna ungu (violet). Namun pada tabung 2, homogenisasi antar gelatin, NaOH dan CuSO4tidak tercampur secara keseluruhan tetapi warna berubah menjadi ungu. Pada tabung 3 yang berisi larutan kasein berwarna biru tipis, hal ini menandakan bahwa ketiga larutan tersebut menunjukkan adanya ikatan peptida. Jadi, ikatan peptida terbentuk jika terdapat dua atau lebih ikatan peptide (Harrow 1954).  


3.      Uji Pengendapan
Prinsip uji pengendapan oleh alkohol adalah pengendapan protein, protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengurangi konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air. Pada uji pengendapan protein oleh alkohol endapan yang paling banyak dihasilkan oleh buffer asetat, buffer asetat menghasilkan endapan yang paling banyak karena memiliki pH 4,7 yang sama dengan pH isolistrik albumin (4,55-4,90).  pH isolistrik merupakan kondisi dimana muatan positif dan negatifnya sama banyak. Dalam larutan asam (pH rendah), gugus amino bereaksi dengan H+, sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya, dalam larutan basa (pH tinggi) molekul protein akan bereaksi sebagai asam atau bermuatan negatif. Pada pH isolistrik muatan gugus amino dan karboksil bebas akan saling menetralkan sehingga molekul bermuatan nol (Winarno, 2002).
Pada praktikum ini, menunjukkan bahwa ketiga sampel mengendap meskipun tingkat pengendapannya berbeda. Jika menurut literatur tabung 3 yang berisi lautan buffer asetat seharusnya memiliki tingkat pengendapan protein tertinggi, namun pada praktikum ini tabung 1 yang berisi HCl memiliki tingkat pengendapan tertinggi. Untuk tingkat kelarutan, tabung 3 yang berisi larutan buffer asetat memilikin tingkat kelarutan yang lebih tinggi dibanding tabung 2 yang berisi larutan NaOH. Dan pada tabung 1 yang berisi HCl tidak larut sama sekali.










BAB V
PENUTUP
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan  bahwa:
1.      Uji Millon
Sampel protein yang mengandung asam amino ketika direaksikan dengan reagen Million akan membentuk garam merkuri dari tirosi yang ternitrasi dan menghasilkan warna merah. Warna yang terbentuk tersebut mengindikasikan bahwa sampel yang digunakan mengandung asam amino.
2.      Uji Biuret
Uji biuret menghasilkan warna biru keunguan pada asam amino yang mengandung kompleks Cu2+, NH, dan gugus CO dari rantai peptidanya.
3.      Uji Pengendapan
Uji pengendapan oleh alkohol yaitu mengendapkan protein dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengurangi konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air.

Daftar Pustaka



4 komentar:

Fandi Taqiuddin Ridho mengatakan...

waduh..
blogx ada penjagax ea kq tulisan "welcome to my blog" ngikutin tyz jadi kehadang tyz lq mau baca bak bro
tpi asik jga thu buat penjelian mata :D
hehe..:v

Akgic Erwin mengatakan...

menurut anda jumlah protein pada bahan pakan ternak di butuhkan seberapa banyak.?

Wildan Alfikri mengatakan...

trima kasih

Supriyono mengatakan...

ternyata banyak pengujian yang dilakukan pada untuk menentukan kadar protein
terima kash infonya

Poskan Komentar

Tolong komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan spam akan di hapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter.